
Some love stories don't end in heartbreak. They end in blood.

01. Kau Milikku, Karina 🔞
Tubuh Karina sedikit gemetar saat berdiri di hadapan pria yang dulu pernah membuatnya tergila-gila. Sandriel Crowe berdiri bersandar di dinding belakang sebuah bangunan tempat mereka dulu sering bertemu secara diam-diam, jaket jeansnya terbuka, memperlihatkan tubuh kekar yang dulu selalu membuat Karina terpikat, namun kini justru mengingatkannya pada bayangan cengkeraman yang menyesakkan."Aku hanya ingin bicara baik-baik, San," suara Karina lirih tapi tegas. "Kita… kita harus berhenti. Semua ini sudah terlalu jauh, ini nggak sehat buat kita."San menyipitkan mata, kedua lengannya menyilang di dada dengan napas berat. "Berhenti? Apa maksudmu? Kita masih saling mencintai.""Tidak, San." Karina menggeleng perlahan, berusaha keras untuk tetap terlihat tenang meski dadanya berdebar. "Aku... aku takut sekarang. Kamu terlalu posesif. Aku butuh ruang buat diriku sendiri."San tertawa kecil, dingin dan tajam. "Atau kau sudah dapat yang baru, ya? Itu sebenarnya alasanmu, kan? Kau selingkuh, Karina?"Karina terdiam, merasa seperti ditelanjangi dengan tatapan itu. "Jangan bicara sembarangan. Aku tidak pernah melakukan itu."Namun San melangkah maju, tangannya langsung mencengkeram lengan Karina dengan kuat, menariknya lebih dekat. Napas hangatnya menyapu pipi Karina, begitu dekat hingga jarak di antara keduanya hampir lenyap. "Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?" bisiknya dingin. Suaranya serak penuh dominasi yang membuat napas Karina tercekat. "Kau milikku, Karina. Selalu dan sepenuhnya."Karina mencoba menarik diri, tapi tubuh San tak memberinya ruang untuk mundur. Jemari San kini mengusap wajahnya, turun ke lehernya dengan gerakan yang membuat Karina kaku di tempat. Ia tahu sisi gelap San, bagaimana lelaki itu bisa bertransformasi begitu cepat dari manis menjadi menakutkan."San, tolong... jangan seperti ini," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.Namun San menyambarnya tanpa ragu. Ia mengecup bibir Karina kasar, dengan rasa frustrasi dan obsesi yang membara. Sentuhannya bukan kasih sayang, melainkan tuntutan. Karina berusaha mendorong tubuhnya, tapi genggaman tangan San pada pinggangnya begitu kuat hingga tubuhnya tak bisa menghindar. "Aku tahu tubuhmu," bisik San di sela napas yang memburu. "Aku tahu kau masih menginginkanku."Ia menyeret Karina menuju ruang kecil di belakang bangunan—sebuah gudang pengap yang pintunya langsung ditutup rapat dengan tendangan ringan. Di dalam ruangan sempit itu, udara terasa semakin berat. San mendorong tubuh Karina hingga punggungnya menempel pada dinding dingin, lalu menciumi lehernya dengan gairah yang bercampur amarah.Karina menghela napas tertahan; entah karena takut, atau karena tubuhnya masih mengenali bayangan keintiman yang pernah mereka bagi—kenikmatan yang pernah San berikan."San... kumohon... jangan seperti ini... kita sudah putus," bisiknya parau, suaranya hampir tenggelam di tengah ketegangan yang memuncak.San berbicara dengan nada rendah namun menusuk, “Tapi, tubuhmu tak pandai berbohong, Sayang. Rasakan… bagaimana jantungmu berdetak seperti dulu saat aku menyentuhmu...” Tangannya menjelajahi dengan cara yang membuat Karina ingin membenci dirinya sendiri karena sempat merindukan sensasi itu. Tapi sekarang... sekarang itu terasa seperti hukuman.Dalam keputusasaan, Karina akhirnya berhasil mendorong San menjauh. Nafasnya terengah, tangannya gemetar saat ia buru-buru meraih gagang pintu gudang pengap itu. “San… cukup! Kita nggak bisa begini terus!” jeritnya, air matanya hampir tumpah.Ia membuka pintu dan langsung berlari keluar, menyusuri lorong gelap dan sempit belakang bangunan itu, berharap bisa sampai ke jalan besar dan bebas dari pria yang tak lagi sama seperti dulu. Dingin dinding beton di sekelilingnya terasa tak sebanding dengan tekanan panas yang baru saja kembali membelenggunya.Namun baru beberapa langkah, suara langkah kaki berat itu menyusul dan mengejarnya. “Karina!” Suara itu memanggil namanya dengan lantang, penuh amarah dan luka yang tak bisa disembunyikan. Karina mencoba mengabaikan panggilan tersebut, tetapi lantai yang licin hampir membuatnya terjatuh. Sebelum ia mampu kembali melaju, tangannya ditarik dari belakang dengan kasar."Aaa—San!!" teriaknya saat tubuhnya terhempas ke dinding, membuat punggungnya terbentur dinginnya beton.Nafas Karina terhenti sejenak saat ia mendapati tubuh San kembali begitu dekat, mengurungnya di antara dinding beton dan dada bidangnya yang bergerak naik turun, berkeringat dan memancarkan kemarahan sekaligus hasrat yang menggila. "Jangan pernah lari dariku lagi, Karina," suaranya lebih seperti geraman, matanya menyala. “Aku bukan mainan yang bisa kau buang seenaknya.”“Lepaskan aku!” Karina meronta, memaksakan tubuhnya untuk melawan cengkeraman pria itu. Tapi tenaga San terlalu besar. Ia menahan kedua pergelangan tangan Karina di atas kepalanya, mendominasi setiap inci ruang di sekeliling mereka. Ciumannya kembali mendarat tanpa peringatan—kali ini lebih dalam, lebih memaksa, dan lebih panas dari sebelumnya."San, hentikan!" seru Karina, suaranya bergetar antara panik dan putus asa. "Apa yang kau lakukan ini gila! Kita sudah selesai!"San tak menghentikan aksinya. Dengan napas yang memburu di telinga Karina, ia berbisik mengejek, "Sudah selesai? Kau yakin? Karena tubuhmu berkata sebaliknya, Karina." Ia mendorong lututnya di antara kaki Karina, membuat tubuh gadis itu perlahan bergetar dalam ketegangan."Aku... benci kau..." ucap Karina tajam, tapi nada suaranya melemah. Di balik kata-kata itu, ada denyutan hasrat yang pelan-pelan tumbuh, seakan tubuhnya mengkhianati niatnya.San tersenyum sinis mendengar pengakuan itu, matanya yang tajam terpaku lurus ke arahnya. "Kalau kau benar-benar membenciku," ucapnya pelan sambil mempererat cengkramannya, "kenapa tubuhmu terus bereaksi padaku?"Karina membeku di tempat. Tubuhnya gemetar, dan sebelum sempat berpikir lebih jauh, ia merasakan tangan San mencengkeramnya lebih erat, menyeretnya masuk ke sebuah ruangan gelap di dekat mereka. Kali ini, San mengunci pintu dan mendorong Karina ke arah meja kayu tua yang terletak di sudut ruangan."Aku akan buat kau ingat siapa pemilikmu," ucapnya dengan suara serak, sambil membuka kancing dan resleting celananya perlahan. Tatapannya tajam, dipenuhi obsesi dan hasrat yang menyiksa sekaligus menakutkan.Karina merasakan gelombang perlawanan menggeliat dalam dirinya. Ia tahu dirinya harus melawan, karena jika San sudah memulai, pria itu bisa berubah menjadi sosok yang berbeda. Hal itu pernah terjadi—saat Karina yang dulu impulsif, begitu tergila-gila padanya, sangat mencintainya sampai menyerahkan segalanya hanya untuk dihancurkan oleh pria yang ia pikir dia kenal.Di antara napas memburu dan sentuhan panas yang menekan tubuhnya, Karina mengambil kesempatan. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia mengangkat lututnya menghantam area sensitif San dan mendorong dada pria itu keras-keras. Tubuh San terhuyung ke belakang, memberi ruang bagi Karina untuk melepaskan diri."Sudah cukup!!" teriak Karina dengan suara bergetar, campuran antara kemarahan dan ketakutan menyelimuti dirinya. Napasnya tersengal-sengal, matanya yang berkaca-kaca ia paksakan untuk menatap San. "Aku bukan milikmu! Dan kau bukan siapa-siapa lagi bagiku, San!"Kejutan menggurat wajah San sejenak, tapi hanya bertahan sebentar. Sorot matanya kini penuh amarah. "Berhenti, Karina," ucapnya dengan suara rendah, namun setiap kata mengandung ancaman dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia bergerak maju dengan langkah berat, tubuhnya menegang seperti kawat yang hampir putus.Karina refleks melangkah mundur, hingga punggungnya bersandar pada dinding logam dingin di belakang. "Apa? Kau mau memukulku sekarang? Apa ini sosok dirimu yang sebenarnya? Ini San yang dulu kucintai?!"San hanya diam dengan rahang terkatup rapat. Tangan kanannya terangkat, mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat jelas. Tubuhnya bergetar seperti menahan sesuatu yang akan segera lepas kendali. Sesaat, hanya sesaat, Karina benar-benar yakin San akan memukulnya."Kau lihat dirimu sendiri sekarang!" Suara Karina pecah di tengah isaknya, air mata mengalir tanpa henti dari matanya. Meski demikian, tatapannya tetap tegar menghadapi sosok di depan matanya. "Kau berubah, San! Kau bukan lagi orang yang kucintai—DAN KITA SUDAH SELESAI!""Tutup mulutmu, Karina!" Raungan San menggema keras dalam ruangan sempit itu.Namun, Karina tidak mundur. "Pukul saja aku kalau itu yang kau inginkan! Buktikan bahwa kau benar-benar bukan pria yang layak kupertahankan!"San membeku. Tangan yang sempat terangkat kembali turun ke sisi tubuhnya. Napasnya tersengal. Mata gelapnya mulai berair, tetapi air mata itu tidak jatuh. "Kau pikir aku tidak sakit, Karina?" bisiknya dengan suara lirih. "Kau pergi tanpa alasan. Kau mengabaikan semua pesanku. Lalu sekarang kau kembali hanya untuk menghancurkanku lebih dalam?"Karina menelan ludahnya. "Aku kembali... untuk benar-benar pergi. Aku butuh penutupan, San. Tapi ternyata... kau masih memaksa."Tiba-tiba, tubuh San jatuh berlutut. Dia menunduk, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. "Aku mencintaimu… aku sangat mencintaimu," gumamnya hampir tak terdengar.Karina memandangnya lama. Di dalam dirinya, masih ada perasaan. Tapi itu adalah luka, bukan cinta. "Cinta bukan berarti menahan seseorang sampai mereka tidak bisa bernapas."San menatap Karina dari bawah, dan air mata pertama akhirnya jatuh.Dan Karina... membalikkan badan. Tangannya membuka pintu perlahan, langkahnya mantap meskipun lututnya lemas. Sebelum pergi, dia berkata pelan, "Lupakan aku... sebelum kau kehilangan dirimu sendiri sepenuhnya."Pintu tertutup di belakangnya. San hanya duduk dalam kegelapan, tubuh bergetar, dengan cinta yang perlahan berubah menjadi kehancuran.

02. Luka yang Belum Sembuh ⚠️
Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Karina kini berusaha membangun kehidupan baru, jauh dari bayang-bayang San. Ia melibatkan dirinya dalam proyek kreatif di kantornya, mencoba melangkah maju.Hari itu, ia sedang menikmati obrolan santai di kafe kantor bersama Jericho Nolan atau akrabnya Jeno, rekan kerjanya yang ramah dan selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum. Namun, kebahagiaan kecil itu hanya sesaat. Senyumnya memudar seketika saat pandangannya menangkap sosok yang tak asing berdiri di kejauhan, tepat di belakang Jeno.Sandriel Crowe. Tatapan itu masih seperti dulu—gelap dan tajam, tapi kini terlihat lebih dalam, lebih terluka."San...?" gumam Karina dengan suara nyaris tak terdengar, tubuhnya langsung membeku.San berjalan mendekat dengan langkah teratur, persis seperti seekor predator yang sedang mengincar mangsanya. Jeno menoleh untuk memastikan situasi, tetapi San melayangkan tangannya, mendorongnya ke samping tanpa basa-basi. "Minggir," ujar San dingin, nadanya tegas dan penuh maksud. "Ini antara aku dan Karina.""San, jangan buat keributan di sini," ucap Karina berusaha tenang, meski suaranya terdengar goyah.Tapi amarah San sudah membara. "Jadi semuanya benar? Kau memang mengkhianatiku waktu itu?" suaranya meninggi, menusuk tajam ke telinga Karina. "Selama ini aku pikir aku gila karena mencurigaimu. Tapi ternyata... kau memang selingkuh!"Karina mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan emosi. "Ini bukan urusanmu lagi, San."San tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung untuk beberapa detik, hanya menatap Karina dengan mata yang penuh luka. Kemudian ia tertawa—tawa yang dingin dan suram, memantulkan kepahitan yang sulit dilukiskan. "Kau pikir kau bisa buang aku begitu saja? Aku masih mengingatmu setiap malam, Karina," ujarnya dengan lirih namun tajam. "Bahkan suara eranganmu saat kau menyebut namaku masih bergema dalam pikiranku."Wajah Karina memerah, campuran antara marah, malu, dan takut menyelimutinya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata kepada Jeno sambil mengalihkan pandangan dari San. "Jeno, kau kembali saja duluan. Aku akan menyusul nanti."Jeno memandangnya dengan keraguan yang tergambar jelas di wajahnya, tetapi ia memilih untuk tidak memperkeruh situasi. "Baiklah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya," jawabnya pelan sebelum akhirnya melangkah menjauh dari tempat itu.San masih menatap Jeno dengan tajam dan sinis, sementara Karina buru-buru menarik pria itu menjauh, membawa mereka ke luar area kantor untuk menghindari tatapan penuh tanya dari rekan kerja lainnya."Pergi, San! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" seru Karina dengan nada tegas namun gugup.San menahan pergelangan tangannya sebelum Karina sempat melepaskannya sepenuhnya. "Karina... kau tahu perasaan ini tidak akan mudah hilang begitu saja, bukan? Dan... kau tau apa yang akan kulakukan karena telah mengkhianatiku?" Ia menunduk, menatapnya lekat-lekat dengan rahang yang mengeras. "Akan kubuat kau menjerit sampai tak bersuara. Sampai kau lupa pria itu. Sampai yang tersisa di kepalamu hanya aku."Karina berusaha melepas cengkeraman San, wajahnya menunjukkan rasa terkejut bercampur takut. "Kau sudah keterlaluan, San!"Dengan gerakan cepat, San menarik paksa Karina menuju mobil yang terparkir di dekat mereka. "San! Lepaskan aku!" teriak Karina mencoba memberontak, menendang dan memukul dadanya sebagai bentuk perlawanan, namun perbedaan kekuatan fisik antara keduanya membuat San tetap berhasil membawanya masuk ke dalam mobil. Pintu mobil tertutup dengan hentakan keras, dan roda bergerak cepat meninggalkan tempat itu.***Karina duduk dengan tubuh gemetar, pikirannya berlomba menerka apa yang akan San lakukan padanya. Jalan yang mereka lalui terasa asing, dan langit perlahan berubah gelap. Mobil akhirnya berhenti di tempat terpencil yang sunyi, hanya suara angin malam yang menjadi latar belakang. Dalam keheningan itu, ketegangan di antara mereka semakin terasa nyata.San mendekat, menahan kedua lengan Karina dengan kuat, menekan tubuhnya ke kursi kulit. Tatapan matanya menyala, penuh dendam dan rindu. "Kau pikir pria itu bisa memuaskanmu sepertiku?" bisiknya. "Aku akan mengingatkan tubuhmu siapa pemilik sebenarnya."Karina berusaha keras melawan, mencoba melepaskan diri dari genggaman San yang memaksanya ke kursi belakang mobil. Tangannya bergerak panik, mendorong dada pria itu, napasnya tersengal penuh ketakutan dan amarah. "Jangan sentuh aku lagi, San! Kau sudah gila!" teriaknya dengan suara bergetar.San menatapnya tanpa bergeming, rahangnya mengencang. Napasnya sama memburu, tetapi bukan karena kelelahan—melainkan oleh campuran emosi yang memuncak akibat penolakan itu. "Aku gila? Kau yang membuatku seperti ini," semburnya tajam, hampir seperti geraman.Karina menelan ketakutannya. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk melakukan hal yang barangkali tak akan pernah bisa dimaafkan. Dalam satu gerakan refleks penuh penghinaan, ia meludahi wajah San.Plek.Cairan itu mendarat dengan tepat di pipi San. Sesaat... keheningan menggantung di antara mereka. Udara seolah membeku di tengah ketegangan.Mata San berubah perlahan. Amarah yang tadi membara seakan tenggelam digantikan sesuatu yang lebih kelam, gelap seperti jurang tak berdasar—tempat di mana pria itu tampaknya telah benar-benar tersesat."Oh... jadi kau ingin bermain kotor?" desisnya perlahan, suaranya terdengar serak, rendah, dan mengandung ancaman yang begitu dingin.Tangannya meraih kedua pergelangan Karina, menahannya di atas kepala. Tubuhnya menekan tubuh Karina ke jok mobil. Ia mencium bibir Karina kasar, menggigit, menjilat paksa. Karina mengelak, tapi gerakannya sia-sia."Aku akan buat kau menjerit... menjerit sampai kau tak bisa bicara... sampai tubuhmu sendiri mengaku siapa yang paling kau rindukan!"Tangannya masuk ke bawah rok Karina, menarik pakaian dalamnya dengan kasar hingga terdengar suara krek! kain yang robek.Karina meronta. Tapi yang membuatnya gila adalah... tubuhnya mulai panas, denyut di dalamnya mulai hidup—mengingat setiap sentuhan pria ini."Berhenti!" jerit Karina, tapi nadanya tak lagi sekencang tadi. Ada getar samar di sana."Sudah terlambat, Karina," gumam San, bibirnya menciumi leher Karina, menyusuri belahan dadanya, lidahnya meninggalkan jejak basah penuh tuntutan.Ia membuka resleting celananya, dan tubuhnya yang keras menggesek kulit paha Karina, menciptakan sensasi panas yang menyiksa."Aku akan menghukummu," bisiknya di telinga Karina, "Sampai kau menangis minta maaf. Sampai tubuhmu mengaku... kau masih milikku."Dan di dalam mobil yang melaju tanpa arah di malam kota yang sunyi, hanya ada suara napas berat, jeritan tertahan, gesekan tubuh yang liar, dan dentuman irama obsesif yang tak bisa dihentikan.***Tubuh Karina sudah tak sanggup lagi bergerak.Keringat membasahi kulitnya. Perutnya naik turun dengan napas yang tersengal. Kakinya lemas terbuka di jok mobil yang kini penuh aroma tubuh dan panas bercampur kemarahan. Tubuh San masih di atasnya, kuat dan tak kenal ampun. Pinggulnya terus menghantam, kasar, dalam—seolah ingin menghancurkan siapa pun yang pernah menyentuh Karina selain dirinya."Sa—San... cukup..." rintih Karina, suaranya nyaris tercekat.Tapi San tak menghentikan gerakannya. Wajahnya kini seperti dikuasai oleh kegelapan yang telah lama ia pendam. Rambutnya berantakan, peluh menetes dari dagunya, dan matanya... itu bukan mata kekasih lama yang pernah memeluknya dengan lembut."Aku tak bisa..." Karina mencakar bahunya. "Sakit, San! Berhenti!"Namun San mencengkeram pinggul Karina lebih erat, mendorong dirinya masuk lebih dalam—dengan tenaga yang lebih liar. Plak! Tangan San bahkan memukul paha Karina agar tidak menutup."Diam!" desisnya. "Kau pikir aku tidak merasa sakit? Aku membayangkan kau disentuh pria lain, Karina... Aku gila hanya karena bayangan itu!"Karina memejamkan mata, air mata jatuh perlahan. Dia benci mengakuinya—tubuhnya tetap bereaksi. Tapi ini... bukan cinta lagi."Aku benci kau..." lirihnya lemah.Tapi San hanya tertawa kecil, getir dan kejam. "Bagus. Karena sekarang, aku tak peduli lagi kau cinta atau benci. Aku hanya ingin kau ingat rasa ini—aku, di dalammu... bukan dia."Ia kembali menggempur lebih keras.Tubuh Karina terguncang, tangannya terkulai, hanya bisa menangis pelan dalam setiap hentakan yang tak kunjung berakhir. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, tubuhnya benar-benar menyerah, dipaksa menerima luapan luka seorang pria yang terlalu mencintai... hingga berubah menjadi monster.

03. Cinta yang Mengurung ⚠️
Langit dini hari masih menggantung keheningan ketika mobil mereka berhenti di depan sebuah restoran pizza yang buka 24 jam. Lampu neon berkedip-kedip lemah, memantul suram di kaca jendela. Perut San memang lapar... tapi bukan cuma untuk makanan.Karina duduk diam di sebelahnya, tubuhnya masih gemetar. Kakinya terasa seperti tak bertenaga, kulitnya penuh jejak-jejak gairah liar yang terlalu kasar untuk dianggap sebagai cinta. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun."Masuk. Makan dulu." Suara San terdengar dingin, tak ada emosi, dan ia bahkan tidak menoleh. Karina hanya mengangguk kecil, perlahan, dengan sorot mata yang tampak kosong dan memerah.Di dalam restoran, tempat itu hampir sepi. Hanya ada dua pelanggan lain dan seorang pegawai yang tampak setengah tertidur di balik kasir. Karina memilih duduk menghadap ke arah lorong menuju toilet. Pandangannya penuh perhitungan—ini mungkin satu-satunya kesempatan.Setelah lima menit duduk diam dan San mulai memeriksa ponselnya tanpa banyak bicara. Karina berdiri perlahan. "Aku mau ke toilet," katanya dengan nada cepat.San mendongak. Tatapannya tajam dan mendalam, menancap ke arahnya selama beberapa detik. Tapi ia tak berkata apa-apa dan hanya mengangguk kecil.Karina segera melangkah, bergegas masuk ke lorong sempit menuju toilet wanita. Begitu berada di dalam, ia langsung mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya gemetar, mencoba mengetik pesan untuk Jeno. Sinyalnya lemah, tetapi ia terus berusaha. Namun sebelum pesan itu berhasil terkirim…Brak!Pintu toilet didobrak kasar dan Karina menoleh dengan panik. Di sana berdiri San, napasnya terdengar berat, matanya terlihat menyala penuh amarah. "Apa yang sedang kau lakukan?""San… aku cuma…" Belum sempat Karina menjelaskan, San mendorong paksa salah satu pintu bilik hingga terbuka penuh dan menyeret tubuh Karina masuk ke dalam bilik sempit yang pengap itu. Pintu dikunci keras.“San, jangan di sini… ini toilet umum!” bisik Karina panik.San menekan tubuhnya ke dinding dingin. "Kau pikir aku bodoh dan akan membiarkan kau kabur begitu saja?"Tangannya menarik rok Karina ke atas, satu kaki menahan lutut Karina agar terbuka. Tubuhnya yang keras kembali menggesek lembut tapi menekan—dan Karina, walau ketakutan, tubuhnya kembali berdenyut, seolah diprogram untuk tunduk saat berada di bawah sentuhan pria ini."San, hentikan... orang bisa dengar..." desah Karina sambil mencoba menahan erangan, tapi San mencium bibirnya dalam-dalam, menenggelamkan setiap kata menjadi desahan.“Kau milikku, Karina. Ingat itu…” Lalu, tubuhnya menekan masuk—liar, dalam, seperti balas dendam terakhir yang belum selesai. Karina terguncang hebat. Suara napas berat dan gesekan kulit memenuhi bilik sempit, tangan mereka menahan dinding yang hampir roboh karena liarnya gerakan mereka.“Sa—aan!!” Karina menjerit dari balik dinding bilik kamar mandi yang sempit, suaranya memecah kesunyian restoran. Seruan itu melengking tajam, merambat hingga ke ruang luar, membuat siapa pun yang mendengarnya sejenak terpaku.Pintu luar toilet terbuka dengan kasar. Seorang pegawai pria, masih mengenakan celemek kerjanya, masuk dengan raut panik dan suara tergesa-gesa. "Permisi! Ada apa di dalam?!"San buru-buru menarik celananya ke atas. Di bawah tubuhnya, Karina masih gemetar, namun raut ketakutan terlihat begitu jelas di wajahnya. Dengan napas yang masih tersengal, San membuka pintu bilik perlahan.Wajahnya tenang, tatapannya terkendali, seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. "Maaf, istriku memang punya masalah kesehatan mental," ucapnya dengan senyum tipis yang meyakinkan. "Kadang dia suka tiba-tiba berteriak sendiri. Tolong mengerti keadaan kami."Pegawai itu menatap Karina yang kini terlihat begitu kacau. Wajahnya sembab dengan pipi basah air mata, bibirnya bengkak, rambutnya berantakan, dan roknya kusut. Jelas sekali ada sesuatu yang tidak beres. Namun sebelum pegawai itu sempat berbicara lebih jauh, Karina memanfaatkan kesempatan.Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mendorong tubuh San menjauh dan segera meraih bahu si pegawai. Wajahnya penuh dengan ketakutan saat ia berteriak lirih namun tegas, "Tolong aku! Dia bukan suamiku! Dia menculikku!"Keheningan mendadak melanda ruangan kecil itu. Pegawai itu berdiri mematung, ekspresinya berubah drastis—ragu-ragu antara percaya atau tidak. Matanya membelalak lebar karena kebingungan, belum tahu harus bereaksi seperti apa.San bergerak cepat. Ia meraih tangan Karina dengan paksa namun tetap menjaga gestur yang seolah penuh kasih. Dengan lembut yang terasa ganjil dan nada suara yang dibuat-buat hangat, ia membelai rambut Karina di depan pegawai tersebut. "Sayang... jangan seperti ini lagi," katanya dengan suara menenangkan yang penuh sandiwara. "Kau sudah berjanji akan minum obat setelah kita pulang, ingat?"Karina berusaha keras menarik tangannya, tetapi genggaman San tetap erat, memberikan kesan menenangkan, seolah semua ini hanyalah masalah rumah tangga biasa di mata orang luar.Pegawai restoran itu hanya dapat tersenyum ragu sebelum berkata pelan, “Ah... baik, Pak. Saya turut prihatin...” San membalasnya dengan senyuman kecil. “Terima kasih.”Sementara itu, Karina masih meronta, tetapi langkah mereka telah membawa mereka keluar dari restoran. Suasana jalanan begitu sepi dan mobil San telah menunggu mereka di sana.San membuka pintu mobil dengan tenang. Dan seperti binatang yang sudah terlalu jinak dan kehilangan daya juang, ia membiarkan dirinya didorong masuk tanpa perlawanan. Ya… Karina diseret masuk ke kursi belakang mobil itu, sekali lagi.Pintu ditutup rapat. Tanpa sepatah kata pun, San memeluk Karina dari belakang. Satu tangannya menutupi mulut gadis itu untuk meredam suara apa pun yang mungkin keluar, sementara tangan lainnya menarik tubuhnya lebih dekat hingga benar-benar berada dalam pangkuannya.“Kau sungguh memalukan tadi," bisik San perlahan di telinganya. “Tapi kau tahu apa yang lebih memalukan, Karina? Tubuhmu... tetap saja merindukanku.”Karina menjerit, tapi tertelan oleh tangan San. Tubuh pria itu sudah setengah telanjang, dan ia kembali menekan tubuh Karina ke bawah—melanjutkan apa yang tadi sempat terhenti.“Ini hukumanmu,” gumam San penuh amarah dan hasrat, “karena masih mencoba lari dari pria yang paling kau nikmati di dunia ini.”Tubuh Karina kembali terguncang, kulitnya terbakar, dan air matanya mengalir saat tubuh San menenggelamkannya lebih dalam—lebih dalam lagi—hingga malam menelan suara mereka bersama.***Keheningan menggantung sepanjang perjalanan dari restoran pizza menuju minimarket terdekat. Mobil melaju perlahan di bawah sinar remang-remang lampu kota, seolah malam turut menahan napas.Karina duduk diam di kursinya, tubuhnya gemetar halus namun pikirannya berputar tajam. Ia tahu, ia harus keluar dari situasi ini. Harus kabur. Sebelum San benar-benar menghancurkannya—jiwa dan raganya.San melirik sekilas saat Karina akhirnya membuka suara. "San," katanya lirih, hampir terdengar seperti bisikan. "Boleh aku ke kamar mandi lagi? Aku hanya mau buang air kecil."Sekilas tatapan San menyiratkan kecurigaan, namun akhirnya ia mengangguk dingin. Dengan gerakan singkat, ia memarkir mobil di depan minimarket kecil yang terlihat sepi. "Cepat," ujarnya tegas.Karina keluar sendirian, langkahnya tergesa. Begitu memasuki minimarket, ia langsung menuju toilet di bagian belakang tanpa memperhatikan kasir yang hampir tertidur di balik meja. Saat masuk ke bilik kecil itu, pintu segera dikunci rapat. Matanya langsung bergerak, mencari sesuatu—jalan keluar.Pandangan Karina tertumbuk pada ventilasi kecil tepat di atas dinding belakang. Napasnya memburu, namun tanpa ragu ia menarik tempat sampah yang ada sebagai pijakan dan mulai memanjat. Tangannya mencoba membuka celah sempit itu, meski tubuhnya terasa seperti runtuh. Bajunya lusuh, lututnya lecet. Namun keinginannya untuk bebas menguatkan setiap gerakannya.Saat tangannya mulai menyentuh tepi ventilasi, suara berat memecah usahanya. “Kau pikir aku akan biarkan kau kabur semudah itu?”Karina menoleh kaget. San berdiri di ambang pintu yang entah bagaimana sudah terbuka tanpa suara sedikit pun. Tatapan matanya gelap, nafasnya berat. "Kenapa… kenapa kau ingin sekali pergi dariku, Karina?" Suaranya rendah namun menusuk.Tanpa mengendurkan usahanya, Karina masih mencoba naik lebih tinggi. "Karena kau gila!" teriaknya penuh ketegangan. "Kau tidak mencintaiku—kau menyiksaku, kau mengurungku!"Namun San hanya menatapnya dengan sorot mata terluka yang justru makin dalam. Ia bergerak mendekat, sementara Karina berserah pada rasa panik yang menghantui dirinya. "Aku mencintaimu, Karina... Lebih dari yang kau bayangkan," ucap San lirih, hampir putus asa sebelum tangannya mencapai betis gadis itu. Dengan satu tarikan kuat, ia menjatuhkan tubuh Karina kembali ke pelukannya.Karina berusaha memberontak, tapi kekuatannya sudah habis. Tubuhnya terkulai saat San memeluknya erat, menggenggamnya dengan obsesi yang nyaris menyakitkan. Wajahnya menekan ke perut Karina, suaranya meraung kecil seolah seluruh dunia hanya bergantung pada gadis itu. "Tanpa kau… aku tak punya alasan untuk hidup lagi," desisnya dingin. "Kalau kau pergi… aku mati. Jika itu yang kau mau… maka aku akan memastikan kau tak pernah bisa melupakanku."San kembali mencium Karina. Ia menekan tubuh gadis itu ke sudut ruangan yang sempit, ciumannya turun liar ke leher Karina—meninggalkan jejak yang terasa seperti luka bagi gadis itu. Gigi-giginya menggigit lembut namun menyakitkan, seperti sebuah penanda bahwa ia ingin memiliki Karina sepenuhnya, secara utuh dan mutlak. "Ini terakhir kalinya," bisiknya tajam di telinga gadis itu dengan nada yang rapuh sekaligus ganas. "Kau tak boleh pergi lagi."Dan dalam ruang kecil itu, Karina menyerah. Kali ini, tidak ada perlawanan. Tubuhnya hanya bisa menangis dalam diam saat semua rasa sakit bercampur dengan sesuatu yang nyaris tidak bisa ia definisikan lagi—San menghukumnya dengan cinta yang terlalu dalam, terlalu hancur untuk disebut cinta sejati.

04. Nama yang Dilarang ⚠️
Hujan mulai turun tepat ketika mobil mereka melintasi gerbang masuk sebuah motel tua di pinggiran kota. Lampu neon di papan bertuliskan "Vacancy" berkerlap-kerlip, seakan tak bersemangat menyambut siapa pun. Tanpa banyak bicara, San turun lebih dulu untuk memesan kamar.Sementara itu, Karina berdiri diam dekat mobil, matanya kosong dan tubuhnya kelelahan. Namun, pikirannya masih berkeliaran, memikirkan skenario rumit dari rencana pelarian yang ia tak tahu pasti akan berhasil atau tidak.Mereka masuk ke kamar 107. Ruang kecil itu layu seperti sudah terlalu lama tak diurus. Dinding lembap meninggalkan bekas bercak, seprai tampak lusuh, dan hanya ada satu ranjang besar di tengah ruangan. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Karina langsung menjauh, memeluk dirinya sendiri seolah mencari perlindungan."Kau masih membenciku, ya?" tanya San pelan dari sudut dekat pintu. Pandangannya tak lepas darinya. "Masih ingin lari?"Karina membalas tatapannya dengan sinis. "Apa yang kau harapkan dariku? Pelukan? Ciuman? Kau mengikatku dengan rasa takut, San. Bukan cinta.”San melangkah perlahan mendekat, tak goyah oleh nada dingin Karina. "Aku sudah memberimu segalanya. Bahkan tubuhku sendiri. Tapi apa? Masih kurang? Kau masih menginginkan orang lain?""Aku tidak..." Karina mencoba menjawab, tetapi suaranya bergetar. Ia terlalu lelah untuk melanjutkan.Tatapan San tak berubah, penuh luka yang bercampur curiga. "Aku melihatmu waktu itu. Kau bersama pria itu. Cara kau tersenyum padanya... persis seperti dulu kau tersenyum padaku."Kata-kata itu menusuk, membuat Karina mengalihkan pandangannya ke lantai. Wajahnya tegang sebelum akhirnya, dengan suara nyaris berbisik namun tak dapat disangkal emosinya, ia melontarkan kalimat yang tak seharusnya ia ucapkan. “…Jeno tidak akan pernah menyakitiku seperti ini…”Hening, detik berikutnya terasa seperti berhenti. Sejenak, dunia terasa membeku. Lalu— Brak!San menendang kursi di sebelahnya hingga terlempar ke dinding. "BERANI-BERANINYA kau menyebut nama pria lain di depanku!!" suaranya menggema di ruangan sempit itu, penuh amarah mendidih. Matanya membara seperti api neraka. "Di hadapanku?! Di tempat tidur yang akan kau pakai denganku?!"Karina mundur dengan langkah gemetar, mencoba memberi jarak antara mereka. Namun San sudah melangkah maju dengan cepat, amarahnya belum surut. Ia mendorong Karina ke kasur, membalikkan tubuhnya hingga tengkurap, lalu menindih punggungnya. Sekilas napasnya terdengar memburu—panas, penuh luapan emosi yang kelam dan tak terkendali.“Kalau begitu… akan kubuktikan… bahwa tak ada pria lain yang bisa buat kau berteriak seperti aku, Karina…”Tangan San mencengkeram pinggul Karina, membuka paksa pakaian bawahnya—hingga terdengar bunyi robekan kain yang kasar. Ia mendorong tubuhnya masuk tanpa peringatan, brutal dan cepat.“San! Sakit…!” jerit Karina, menggigit seprai, tubuhnya terguncang keras oleh gerakan liar pria itu yang dipenuhi kemarahan.San menunduk ke telinga Karina, mencium paksa lehernya yang berkeringat.“Setiap hentakan ini… adalah untuk setiap huruf dari nama Jeno yang keluar dari mulutmu,” desisnya kejam.Plak! Tangannya memukul pantat Karina keras, membuat gadis itu terisak.“Katakan siapa yang punya tubuhmu…”Karina menggertakkan gigi, menolak menjawab.Plak! San memukul lagi dan gerakannya semakin cepat, menghantam titik terdalam yang membuat Karina tak bisa menahan suara.“Jawab aku!”Karina menangis. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi membedakan antara kebencian dan kebutuhan, antara jijik dan pasrah.Dan dalam setiap hentakan penuh dendam itu, San hanya menyimpan satu tujuan di benaknya: menghapus semua jejak nama lain di tubuh Karina… agar yang tertinggal hanya dirinya.***Hujan masih mengetuk pelan kaca jendela kamar motel. Udara dingin menyelimuti tubuh Karina yang tertidur pulas di atas seprai kusut, telanjang dan kelelahan. Napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang.Di sampingnya, San tidak tidur. Ia hanya duduk, memperhatikan wajah Karina yang sedang tertidur. Jemarinya dengan pelan menyusuri lekuk rahang hingga bibir wanita itu. Ia menarik tubuh Karina lebih dekat ke dadanya, ke dalam pelukannya yang lembut, mencoba menikmati kehangatan dari kulitnya, suara napasnya, dan keberadaannya—meski semua itu membuat dada San sesak."Kau adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini," bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar, membenamkan ucapannya pada rambut Karina. "Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu."Ia menarik selimut lebih tinggi, membungkus tubuh mereka berdua, mencoba menenangkan pikirannya. Tetapi momen tenang itu tak bertahan lama. Sebuah getaran kecil dari ponsel Karina di atas nakas memecah keheningan kamar.San merapatkan rahangnya, perlahan mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel tersebut. Dengan hati-hati, ia membuka layar—dan matanya langsung membatu melihat sebuah pesan masuk yang membuat jantungnya seketika membeku.Pesan dari Jeno:"Karina, aku sudah cari kamu ke mana-mana. Kamu baik-baik saja? Aku nggak akan diam. Aku akan cari kamu, tunggu aku."Tangan San mulai gemetar tanpa kendali. Rasanya udara dalam ruangan tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin, menusuk ke tulang-tulangnya. Matanya kembali gelap, penuh bayangan amarah dan cemburu yang membara. "Jadi kau masih menghubunginya…" gumamnya lirih.Ia meletakkan ponsel dengan tenang. Lalu… membalikkan tubuh Karina yang tertidur miring, menindihnya perlahan. Jemarinya mulai menjelajahi kulit pinggang Karina, bergerak naik ke sepanjang punggungnya, sebelum kembali turun hingga ke paha dan menyibaknya.Karina mengerang kecil dalam tidurnya, tubuhnya sedikit menggeliat, namun ia tetap belum tersadar sepenuhnya.San mendekatkan wajahnya ke telinga Karina dan berbisik dengan nada dingin, “Bangun, sayang… tubuhmu harus dihukum lagi.”Ia masuk tanpa aba-aba. Karina langsung tersentak.“S-San? Apa—?” suaranya terputus saat tubuhnya terguncang hebat. Hentakan itu dalam dan liar, seolah tak mengenal batas, seperti pria di atasnya tak lagi peduli pada kata lelah atau ampun.“Kenapa kau masih menghubungi dia, hah?!” geram San, menggempur lebih keras.“Ap—apa maksudmu?! Aaah… S-San—tunggu—!”Plak! tangan San menampar pantat Karina. “Jawab aku!”Karina kini sadar sepenuhnya, matanya terbelalak, tubuhnya terguncang oleh irama cepat yang tak ia mengerti.“Jeno?! Aku... aku bahkan nggak tau dia—aaah—kirim pesan!”San tak percaya. Tangannya menggenggam leher Karina dari belakang—tak mencekik, tapi cukup menegaskan bahwa ia sedang di ambang kegilaan.“Setiap pesan dari dia… kau akan membayarnya dengan tubuhmu,” bisiknya parau. “Karena cuma aku… cuma aku yang berhak menikmatimu seperti ini.”Dan di balik dinding tipis motel murah itu, hanya terdengar suara ranjang yang berderit, napas berat, dan rintihan Karina yang terbangun di tengah malam... bukan karena mimpi, tapi karena cinta yang sudah berubah jadi penjara.

05. Kamar 106
Tubuh Karina terasa hancur, pikirannya kacau balau. Malam yang terus berulang ini tak lagi terasa nyata—hanya seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Di sampingnya, San tertidur lelap setelah kembali melampiaskan segala hasrat, amarah, dan rasa miliknya. Tubuh Karina yang telanjang bersandar di dada pria itu, terasa seperti bukan miliknya sendiri lagi.Dalam keheningan yang menggantung itu, Karina mengambil keputusan. Tangannya perlahan meraih bantal di dekatnya. Tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya kosong saat ia menatap wajah San yang tertidur dengan damai, begitu tenang, seolah pria itu tak baru saja menghancurkan dirinya.Tanpa berpikir panjang, Karina menekan bantal itu ke wajah San. Kedua tangannya mencengkeram dan menekan sekuat tenaga, sementara giginya terkatup rapat dan air matanya bercucuran deras. Tubuhnya yang lemas dan menggigil berusaha menahan bantal tetap di posisinya, mendorong dengan seluruh tenaga yang tersisa."Pergilah... Biarkan aku bebas... Biarkan aku hidup..." bisiknya dengan suara pecah di sela deru napas tertahan.Namun semuanya berubah dalam sekejap. San tersentak bangun. Tubuhnya bereaksi spontan; tangannya langsung menepis bantal tersebut dengan kekuatan penuh, mendorong tubuh Karina hingga terlempar ke ujung ranjang. Punggungnya menghantam footboard dengan keras, memaksanya mengerang kesakitan sambil terengah-engah.San bangkit dari posisinya dengan napas memburu. Rambutnya acak-acakan; wajahnya memerah, kemarahan dan keterkejutan melintas di matanya. Ia menatap Karina dengan ekspresi bercampur tak percaya. "Kau mau membunuhku, Karina?!" teriaknya meledak penuh emosi. "Kau benar-benar ingin membunuhku… karena aku mencintaimu?!"Karina membalas tatapannya dengan mata berlinang dan kosong, seakan tak ada energi emosional yang tersisa di dalam dirinya. “Kau menyebut ini cinta?” suaranya parau dan berat oleh kesedihan serta kemarahan yang tak lagi mampu ia sembunyikan. “Kau menyiksaku, San. Kau mengambil semuanya dariku… kau memperkosaku malam demi malam! Apa itu cinta bagimu?!”San melangkah turun dari ranjang, tangannya mencengkeram rambut Karina dengan kasar, menarik wajah wanita itu dengan paksa mendekat. “JAWAB AKU, KARINA!” Suaranya menggelegar tepat di depan wajah Karina, penuh emosi yang tak tertahan lagi. “APA AKU SALAH... HANYA KARENA MENCINTAIMU?!”Karina menutup mata sambil menghela napas berat. Dia menangis tanpa suara, terlalu lemah untuk memberikan jawaban, terlalu takut untuk melawan.San menatapnya lama, matanya memerah dengan air mata yang mulai menggenang. Tubuh kekar itu bergetar, tangannya gemetar hebat, tapi genggamannya tak juga terlepas.Di dalam kamar motel yang begitu sempit itu, cinta, kekerasan, dan kekecewaan berdansa dalam diam—dua hati yang dulunya saling memberi kehangatan, saling mencintai… kini saling menghancurkan.Dan Karina tahu—kalau ia tidak keluar malam ini… esok hari mungkin ia tak akan pernah memiliki kesempatan untuk pergi sama sekali.***Suara deras air keran yang terus mengalir dari kamar mandi seolah menjadi sinyal bahwa San mungkin tak sadar. Karina mulai bangkit perlahan dari tempat tidur. Langkahnya tersendat-sendat, lututnya terasa seperti gelas rapuh yang nyaris retak, tapi ia terus bergerak, tekadnya sudah bulat.Karina meraih pakaian seadanya dan memakainya dengan cepat, lalu membuka pintu kamar 107 perlahan—dan kabur ke lorong motel, nyaris merangkak.Namun baru beberapa meter keluar dari pintu itu…Tangan kekar seseorang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat dari arah samping. Karina terkesiap dan tubuhnya menegang. Di sana, dua pria berdiri di depan pintu kamar 106—tepat di sebelahnya. Salah satu dari mereka berpostur tinggi kurus dengan pandangan tajam yang menusuk, sementara yang lainnya lebih kekar dengan senyuman samar yang tampak berbahaya."Hei, jangan takut," ucap pria bertubuh kurus dengan nada yang tampak menenangkan meskipun sorot matanya berbicara lain. "Kami dengar keributan dari kamarmu. Kami bisa membantumu.""Iya, iya... Jangan khawatir, kami bukan orang jahat," sambung pria kekar seraya melirik Karina dengan senyum yang sulit ditebak maksudnya.Karina membisu, tubuhnya bergetar, tak tahu apakah bisa mempercayai mereka atau tidak. Tapi rasa lelah yang begitu luar biasa sudah menguasainya, menyelimuti kemampuan nalarnya. Tanpa kata, ia mengangguk pelan.Kedua pria itu membawanya masuk ke kamar 106 dengan tenang. Satu menuntunnya menuju sebuah kursi reyot, yang lain menyodorkan segelas air padanya. Sekilas mereka terlihat seperti penyelamat…***Langit mulai gelap, dan San masih belum juga terlihat keluar dari kamarnya. Karina mulai merasa tidak nyaman. Ia telah melewatkan terlalu banyak waktu, dan kini ia merasa harus segera pergi. Dengan langkah hati-hati, ia bangkit dan menuju pintu untuk meninggalkan tempat itu. Namun, sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang."Mau pergi ke mana, Manis?"Karina berbalik. Pria bertubuh kurus itu melangkah mendekat dengan senyum lebar yang terasa mengancam. "Kau tahu… eranganmu semalam dari kamar sebelah itu cukup mengganggu tidur kami," ucapnya seraya menjilat bibirnya. "Tapi sekarang kau di sini. Jadi, bagaimana kalau kau sekalian menghibur kami?"Karina tersentak ketakutan. "Ja—jangan…" gumamnya panik, lalu mencoba lari. Namun, pria bertubuh kekar itu ternyata sudah berdiri tepat di belakang Karina. Ia membekap Karina dari belakang, menyeretnya dengan paksa ke arah ranjang.Tubuh Karina diperlakukan kasar saat ia berusaha melawan, menendang sekuat tenaga tetapi sia-sia. Pria pertama mulai menarik kaus yang ia kenakan, sementara yang lain sibuk membuka gesper celananya.Lalu, suara ketukan keras menggema. Tok! Tok! Tok!Mereka berhenti sejenak dan saling berpandangan, terganggu oleh suara dari luar pintu. "Siapa itu?" gumam pria kekar dengan nada kesal.Salah satu dari mereka menuju pintu, membukanya sedikit, dan tiba-tiba, sebuah pukulan keras menghantam wajahnya.Brak!Ia terjatuh ke belakang dengan keras. Sosok di balik pintu itu adalah San. Wajahnya gelap, sementara matanya matanya menyala penuh amarah. "Sentuh dia lagi… dan aku pastikan hari ini adalah hari terakhir kalian melihat matahari," desisnya dingin.Tanpa membuang waktu, San menghantam pria di depannya dengan tinju penuh kemarahan. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah dan tubuh lawannya tanpa ampun. Pria kekar itu mencoba memberikan perlawanan tetapi tak mampu menandingi amarah beringas San, yang kini bak binatang buas yang marah karena sarangnya disentuh.Karina hanya bisa melihat dari atas ranjang, tubuhnya gemetar hebat dengan pakaian yang nyaris terlepas. Napasnya tersengal-sengal menyaksikan kekacauan di depannya.Setelah memastikan kedua pria itu terkapar tak berdaya, San mendekati Karina. Tangannya berlumuran darah ketika ia menarik tubuh Karina ke dalam pelukan hangat—meskipun penuh dengan getaran emosi yang sulit ditafsirkan. Napasnya masih berat, penuh kemarahan yang belum sepenuhnya reda. "Kau... bodoh sekali..." katanya pelan dengan suara serak tetapi terdengar menekan rasa frustrasi. "Kabur sendirian seperti ini…"Air mata Karina mulai mengalir deras. Ia menangis di pelukan San. Ia tidak tahu pasti… apakah tangisnya adalah karena perasaan lega telah diselamatkan, atau karena ia menyadari telah kembali jatuh ke pelukan lelaki yang sama gilanya dengan mereka.

06. Harga dari Perlindungan ⚠️
Tubuh Karina masih gemetar saat San menggandengnya keluar dari kamar 106. Wajahnya berantakan, bajunya robek sebagian. Namun, kakinya masih mampu melangkah meski gemetaran, mengikuti langkah pria itu. Mereka kembali masuk ke kamar 107. San menutup pintu dengan perlahan, lalu memutar kuncinya.Suasana berubah hening seketika. Hanya ada tarikan napas mereka yang terdengar di dalam ruang itu. Karina berdiri di depan tempat tidur. Tubuhnya lelah, sebagian pakaiannya ternoda dan koyak. Dengan tangan yang memeluk diri sendiri, kepalanya menunduk, tak berani menatap pria di belakangnya.Tapi kemudian, San memecah keheningan dengan suara pelan namun tegas. "Kau aman bersamaku, Karina." Ucapan seperti itu seharusnya menenangkan, tapi di telinganya justru terasa seperti rantai baru yang mengikat lebih erat di lehernya.San mendekat perlahan, jari-jarinya terulur mengangkat dagu Karina dengan lembut. “Tapi kau tahu, Karina… semua yang kulakukan barusan itu mempertaruhkan hidupku… Tapi tetap kulakukan untukmu. Karena kau milikku, Karina." Pandangannya menusuk langsung ke arahnya. "Sayangnya, kau bersikap nakal hari ini. Jadi, kau harus membayarnya…”Tangan San menyusuri wajah Karina perlahan, turun menuju leher jenjangnya, lalu berhenti tepat di tulang selangka gadis itu yang terbuka. Jemarinya meluncur turun, perlahan membuka kaus robek yang menggantung di tubuh ringkih Karina. “Dengan ini…” suaranya serak menggantung di udara.Langkahnya semakin dekat, tubuh Karina yang sudah terlalu lelah akhirnya terdorong perlahan ke atas tempat tidur. Gadis itu tidak melawan; mungkin karena kekuatannya telah habis... atau pikirannya sudah terlalu kacau untuk menyusun perlawanan apa pun. Napasnya tersengal, air mata menggenang di sudut matanya. Namun—tanpa mampu ia kendalikan—tubuhnya tetap memberikan respons saat lelaki itu mengecup lembut kulit perutnya yang terekspos. “Aku akan membuatmu merasa aman… dengan cara yang hanya aku yang mampu melakukannya.”San membuka pakaiannya sendiri dengan cepat, dan dalam waktu singkat tubuhnya yang telanjang menindih tubuh Karina. Tapi malam ini, berbeda. Bukan sekadar brutal. Gerakannya lembut… namun menguasai.Ia masuk perlahan, dalam… membuat Karina menggigit bibirnya, menahan isakan dan rintihan.Tubuh mereka menyatu, pelan namun kuat. Pinggulnya bergerak lambat tapi dalam, dan tangannya menahan erat pinggang Karina agar tak bisa menghindar. Ciuman jatuh bertubi-tubi di leher, bahu, dada Karina—hangat dan obsesif.“Aku satu-satunya pria yang bisa melindungimu, Karina. Satu-satunya yang bisa membuatmu hidup. Kau tahu itu, kan?”Karina menutup matanya, air matanya jatuh… namun tubuhnya tak bisa menolak sentuhan itu. Setiap hentakan membuatnya mendesah, dan meskipun jiwanya ingin lari… tubuhnya tetap menyerah.Membayar.
Dengan setiap napas.
Dengan setiap desah.
Dengan dirinya sendiri.Dan San terus bergerak di atasnya—membuatnya tenggelam dalam rasa bersalah, kenikmatan, dan perasaan yang semakin tak bisa ia bedakan lagi: cinta atau penjara.Pukul 03.17 dini hari.San tertidur di sisi ranjang, lengan kekarnya masih melingkar erat di pinggang Karina, seperti rantai hidup. Napasnya teratur memburu punggung Karina dengan kehangatan yang menenangkan. Namun Karina tidak bisa tidur. Kelopak matanya terbuka lebar, dipenuhi kegelisahan.Ia perlahan berusaha melepaskan diri dari pelukan San, napasnya tertahan dalam kecemasan. Setelah berhasil bebas, tangannya meraba-raba di bawah bantal, mencari sesuatu—ponselnya. Saat jemarinya menggenggam perangkat itu, ia segera membuka layar. Ujung-ujung jarinya bergetar saat mengetik pesan cepat dengan panik:"Jeno… aku di motel Vacancy. Kamar 107. Tolong…”Hanya butuh beberapa detik sebelum ponselnya bergetar balik. Pesan singkat masuk dari Jeno:"Aku akan segera ke sana. Tunggu aku, Karina."Karina menarik napas dengan rasa lega. Sekilas harapan itu terasa nyata. Namun di momen berikutnya— “Siapa yang kau tunggu?” Suara bariton itu menyeruak tajam dari belakang.Karina terpaku di tempat, darahnya seperti berhenti mengalir sesaat. Perlahan, ia memberanikan dirinya untuk menoleh ke sumber suara. San sudah duduk tegak di tepi tempat tidur dengan rambut acak-acakan dan sepasang mata tajam yang menembus Karina seperti belati.“Kau pikir aku tidur sedalam itu?” tanyanya lirih, namun nada suaranya mengandung tensi yang tak main-main. Tanpa kehilangan kendali, tangannya bergerak cepat meraih ponsel dari genggaman Karina sebelum sempat ia sembunyikan kembali. San menatap layar ponsel yang masih terbuka dengan nama Jeno menyala.Ruangan terasa semakin sunyi oleh jeda singkat tersebut. Lalu, sebuah senyuman muncul di wajahnya—tipis, hampir tak terlihat. Namun senyuman itu tidak menawarkan rasa aman, melainkan ancaman yang mengerikan. “Bagus.” Ia bangkit dari ranjang, mengenakan celananya. “Kalau begitu, kita pergi sekarang.”Gerakannya cepat dan kasar. Ia menarik Karina dari tempat tidur dengan satu tarikan kuat, membuat tubuhnya nyaris terjerembap ke lantai. Karina yang cuma mengenakan pakaian dalamnya, hanya sempat meraih jaket besar untuk menutupi tubuhnya seadanya. Genggaman tangan San begitu kuat di pergelangan tangan Karina hingga tak ada ruang untuk perlawanan.Sebelum meninggalkan kamar, San berhenti sejenak di dekat meja kecil di sudut ruangan. Dengan sengaja, ia meletakkan ponsel Karina di sana—dalam posisi layar tetap menyala menampilkan percakapan terakhir dengan Jeno. “Akan kubiarkan dia melihat ponselmu,” ucapnya dingin. Matanya memancarkan sesuatu yang gelap dan mengancam—kemurkaan sekaligus kepastian. “Tapi ingat ini baik-baik… dia tidak akan pernah bisa memilikimu.”San mendorong pintu dengan keras lalu menutupnya rapat hingga suara kunci berbunyi menggema di kegelapan tersebut. Kamar itu kini kosong dan sunyi; hanya tersisa rintik gerimis yang terdengar samar di luar sana. Mobil San melaju perlahan menerobos jalan yang basah oleh hujan ringan malam itu.Karina duduk kaku di kursi penumpang, tubuhnya bergetar kecil antara dingin dan ketakutan. Ia tak bisa memalingkan pandangannya dari jendela mobil, hanya memperhatikan keremangan kota yang berlalu tanpa tahu ke mana tujuan mereka, tanpa tahu apa yang akan terjadi lagi.Namun, ada satu hal yang ia yakini di tengah keputusasaan: Jeno akan datang untuk menyelamatkannya… tapi entah mengapa dirinya dipenuhi perasaan lain yang menyakitkan menyusup dalam benaknya—rasa takut bahwa mungkin… semuanya sudah terlambat.

07. Aku Tidak Mencintaimu Lagi 🔞
Mobil mengeluarkan suara pelan saat hujan terus membasahi permukaan kapnya. Jauh dari keramaian kota, rintik hujan mengaburkan pandangan, membuat lampu jalan dan papan-papan arah terlihat samar di balik kabut basah.Tak lama, mobil itu berhenti di sebuah pom bensin kecil yang sepi, terjebak di tengah jalan tol yang terbentang seolah tanpa ujung. San turun lebih dulu. Langkahnya mantap menuju pengisian bensin, matanya menatap ke depan tanpa emosi.Di dalam mobil, Karina duduk terdiam. Tangannya mengepal erat di atas lutut, tubuhnya bergetar pelan dalam irama napasnya yang tidak stabil. Pikirannya tak bisa berhenti berlari ke segala arah, mencari celah dan jalan keluar. Di sisi bangunan pom bensin, sebuah papan kecil bertuliskan "Toilet" menarik perhatiannya.Dengan hati-hati, Karina membuka pintu mobil perlahan. "San... aku mau ke toilet," ucapnya datar, hampir tanpa nada.San sekilas menoleh sebelum menjawab singkat, "Cepat."Ia melangkah cepat ke arah bangunan toilet itu. Begitu masuk, tanpa ragu ia mengunci bilik di belakangnya. Tangan Karina gemetar saat mencoba mengatur napas. Ia menatap lekat-lekat celah ventilasi yang ada di atas—terlalu sempit untuk tubuhnya. Namun saat ia membuka pintu biliknya dan melihat sebuah jendela di dekat wastafel, harapan kecil menyelinap masuk. Jendela itu—barangkali cukup besar baginya untuk keluar.Dengan hati-hati, ia memutar engsel jendela yang berkarat hingga terbuka sedikit demi sedikit. Kerongkongannya tercekat saat tangannya memegang tepi jendela, kepala mendongak menakar ketinggiannya. Begitu ia mulai mengangkat tubuh ke atas wastafel... Sebuah suara muncul dari belakang yang membuat jantungnya terasa melompat keras di dadanya."Kau mau kabur lagi, Karina?" Suara itu menembus udara seperti kilat di tengah badai yang menakutkan.Seluruh tubuhnya membeku. Ia menoleh perlahan, hampir berharap semua ini hanya ilusi... Tapi tidak. San berdiri di sana, tepat di depan pintu toilet. Tidak ada suara langkah sebelumnya. Tidak ada pintu yang terdengar terbuka atau tertutup. Namun dia ada di sana. Berdiri dengan mata yang menatap tajam ke arahnya, seolah kejadian ini bukanlah hal yang mengejutkan sama sekali.Diam-diam Karina menurunkan tubuhnya dengan pelan dari tepi wastafel, kakinya kembali menyentuh lantai dingin dengan gemetar. San mendekat, langkahnya tenang namun terisi dengan beban tak terlihat. Suaranya rendah saat ia mulai berbicara. "Apa... apa aku masih kurang? Kurang melindungimu? Kurang membuktikan bahwa kau hanya milikku?"Karina memejamkan mata, tenggelam dalam ketakutannya sendiri. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan muncul ke permukaan—keberanian kecil yang terlalu lama terpendam. "Tolong... San," ujarnya pelan, suaranya hampir hilang di antara gemericik hujan di luar. "Aku rasa... aku tidak mencintaimu lagi."Ruangan itu seketika terasa hening luar biasa; bahkan suara hujan seolah tak lagi terdengar. San terpaku di tempatnya, mata gelapnya tak berkedip sedikit pun saat ia mencerna kata-kata Karina itu satu demi satu, seolah mereka adalah duri-duri kecil yang menusuk perlahan ke dalam dadanya. "...Apa?" Suaranya serak namun datar, seperti tak percaya pada kenyataan yang baru saja menghantamnya dengan keras.Karina memberanikan diri menatap matanya untuk pertama kalinya malam ini, meskipun tubuhnya tetap gemetar hebat. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya dengan suara lebih tegas meskipun terdengar getir. "Cinta itu mati, San... saat kau mulai menyakitiku malam demi malam. Saat aku tak bisa membedakan cintamu dengan penjara. Saat tubuhku... bahkan diriku sendiri, tak lagi menjadi milikku."San menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba meredam badai yang berkecamuk dalam dadanya. Kedua tangannya erat mencengkeram pinggiran wastafel, tubuhnya kaku dan tegang. “Jangan bilang begitu, Karina… Aku hidup untukmu. Setiap tarikan napasku adalah karena dirimu. Kalau kau pergi…” Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Tatapan matanya perlahan berubah, menjadi suram dan kelam. “…maka aku akan memastikan kau tetap bersamaku, disisiku. Bagaimanapun caranya.”Sebelum Karina sempat bereaksi, San bergerak cepat. Ia meraih pinggang Karina dan mendorongnya ke dinding toilet. Bibir mereka bertemu dalam ciuman paksa yang kasar, sementara tangan San kembali mengoyak jaket besar yang menutupi tubuh mungil Karina. Nafasnya terasa panas, gerakannya penuh amarah dan luka; bukan cinta, melainkan rasa kehilangan yang berganti menjadi penghukuman yang kelam. "Kalau cintamu mati... biar aku hidupkan lagi lewat tubuhmu," desisnya dingin.Tubuh Karina terperangkap di antara dinginnya dinding dan cengkeraman San yang semakin kuat. Bibir pria itu terus menyesapnya dengan cara yang menyiksa, obesesinya tak terkendali. Namun malam ini, Karina tidak lagi berniat menjadi korban. Tanpa aba-aba... Brak!"AARRGH!!" jerit San, suara kesakitannya menggema di ruang sempit.Karina berhasil mengangkat lututnya dengan sekuat tenaga, menghantam ke arah alat vital pria itu. Serangannya tepat sasaran, keras dan tanpa ampun. San terjatuh menyentuh lantai toilet, menggeliat kesakitan sambil memegangi selangkangnya, mengumpat dan mengerang tak tertahankan.Karina memanfaatkan momen itu. Dengan gemetar, ia berlari keluar dari toilet, langkahnya tergesa meski tubuhnya terasa lemah. Dadanya terasa seperti dihimpit batu besar, napasnya tidak beraturan. Jaket lusuh yang hanya menutupi tubuh setengah telanjangnya berkibar kala ia berlari melewati area pom bensin. Hujan masih turun. Malam seakan menambah beban gelapnya suasana. Tapi kali ini, Karina merasa satu langkah lebih dekat pada kebebasan. Hingga..."Heh.""Lihat siapa yang muncul di sini..."Tubuh Karina membeku. Nafasnya terhenti, matanya terbuka lebar saat fokusnya tertuju pada dua pria di depannya—pria dari kamar 106. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya nyaris melakukan hal keji padanya. Keadaan mereka kini terlihat kacau; wajah babak belur dengan luka di mana-mana—bibir pecah, mata bengkak dan lebam, tapi senyuman mereka sungguh menyeramkan.Dan kali ini, mereka tidak sendirian. Lima pria lain berdiri di belakang mereka—tubuh-tubuh kekar dengan tawa rendah menusuk keheningan malam. Mata mereka memandang Karina seperti dia bukan manusia... melainkan mangsa yang nyaris berhasil kabur dari perburuan liar."Kau akhirnya berhasil kabur dari pacar psycho-mu, ya?""Tapi, bos... dia ternyata berakhir di sarang iblis sekarang. HAHAHA!""Dunia ini memang sempit sekali, Manis."Karina mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya mengepal tanpa daya. "Tolong... jangan..." suaranya terdengar pecah, penuh ketakutan."Kau masih ingat, tidak?" pria bermata bengkak itu mulai bicara, suaranya berat dan dingin. "Perbuatan pacar psycho-mu itu pada kami? Hah! Tapi, itu sudah tidak penting... aah, benar! Jeritanmu malam itu... membuat kami berdua kesulitan tidur. Kau nakal sekali, Manis. Kau tau apa yang harus kau lakukan saat membuat keributan di tengah malam yang menyebabkan tetanggamu terganggu dan tak bisa tidur? Ya, tepat! Kau harus membayarnya..." Lidahnya menjilat bibir yang memar dan berdarah. "Sekarang, giliran kami yang menikmatimu. Kami semua."Langkah mereka mendekat, menciptakan lingkaran. Karina berusaha melarikan diri, tapi baru sempat melewati dua langkah, salah seorang dari mereka sudah menarik rambutnya dengan kasar dari belakang. Tubuhnya terhempas ke tanah yang dingin dan basah. Ia menjerit, mencoba meronta sekuat tenaga. Namun, satu per satu tangan kasar itu mencegahnya, menangkap setiap pergerakan dalam gelap yang semakin mencekam.